Situs Pababaran Trunojoyo, Monumen Hidup-Mati Sang Raja Madura

Bagi pecinta wisata sejarah, situs Pababaran Trunojoyo di Sampang pasti sudah tidak asing lagi. Objek wisata yang kaya akan nilai sejarah Madura ini wajib dikunjungi bagi Anda yang gemar mengulik kisah masa lampau Pulau Garam. Pasalnya, Pababaran Trunojoyo bukan sekedar saksi peristiwa sejarah Madura saja, melainkan juga menjadi monumen hidup-mati Trunojoyo, sang Raja Madura.

Dipandang sekilas, situs Pababaran Trunojoyo tampak begitu bersahaja. Bangunan persegi berbalut cat warna hijau tampak kokoh mengitari sebuah areal tertutup. Di tempat itulah, Pangeran Trunojoyo dilahirkan sekitar tahun 1649.

Trunojoyo dilahirkan di dalam garis keturunan penguasa Madura yang kala itu tengah diduduki Mataram Islam. Meski tergolong bangwasan, ia merupakan anak selir, sehingga tidak berhak menjadi Raja Madura yang sah. Statusnya ini tidak membuat Trunojoyo berpaling dari negerinya. Sebaliknya, ia justru sangat marah mendapati kekuasaan Mataram Islam yang terus mengekang Madura.

Suatu hari, sang Pangeran mendapat tawaran yang mengejutkan. Adipati Anom meminta agar Trunojoyo mengkudeta Raja Mataram yang tidak lain adalah ayah dari Adipati Anom sendiri, dengan imbalan kebebasan tanah Madura. Bagi Trunojoyo yang amat membenci Mataram, tawaran tersebut tentu sangat menggiurkan. Dengan segera Trunojoyo menyusun bala tentara dan mencari sekutu dari Banten hingga Makassar untuk menggulingkan kursi tahta Amangkurat I yang berkedudukan di Yogyakarta.

Hanya dalam beberapa tahun, pasukan Trunojoyo menjadi sangat besar. Bersama laskar rakyat yang dipimpinnya ia mampu menyapu bersih wilayah kekuasaan Mataram dari Surabaya hingga Cirebon. Dalam sekejap, Trunojoyo menjelma menjadi Raja di hati rakyat yang selama ini tertindas oleh kekusaan Mataram.

Di lain pihak, Adipati Anom yang awalnya mendukung Trunojoyo malah berbalik ketakutan atas kemenangan rakyat Madura. Setelah pusat kerajaan Mataram berhasil direbut, Adipati Anom malah pergi meminjam bala bantuan VOC untuk mengusir pasukan Trunojoyo. Berkat bantuan kompeni, sang Raja Madura pun berhasil ditangkap dan dihukum mati. Ironisnya, sebelum menghukum mati Trunojoyo, Adipati Anom yang kala itu telah bergelar Raja Amangkurat II justru memberikannya gelar Adipati Madura.

Selain peringatan kelahiran, situs Pababaran Trunojoyoternyata juga menjadi saksi gugurnya Trunojoyo.Warga setempat percaya bangunan cagar budaya di Kabupaten Sampang tersebut juga menjadi tempat peristirahatan terakhir sang Raja Madura. (IA)